Engkau adalah teladan bagi buat hati Mu

Diposting pada

Seorang lelaki tua hidup bersama putra, istri dari putranya serta cucunya. Karena sudah berumur, ia sudah tak kuat makan seperti biasanya. Tangan sudah gemetar dan penglihatannya melemah sehingga makanan yang ia pegang sering jatuh dari tangannya.

Suatu hari, piring jatuh dari tangannya hingga pecah. Si menantu, istri anaknya, marah atas momen tsb dan meminta suaminya agar memberi jalan keluar.

Atas hal ini, suami memikirkan solusi hingga terbayangkan sebuah ide yaitu mesti dibuat piring kayu untuk ayahnya itu. Tak hanya itu, langkah yang diambil adalah makanan khusus sang ayah dipisahkan dengan makanan yang ada di meja. Diambil lah keputusan tersebut.

Akhirnya bapak tua makan sendiri dan terpisah dari putra, menantu dan cucunya. Setiap kali makanan disediakan untuknya, kali itu pula air matanya mengalir di pipinya sebab beliau merasa terbuang di akhir-akhir hayatnya ini. Beliau harus makan sendiri terpisah dari anaknya yang dulu ia besarkan dengan susah payah sementara si anak dan keluarga kecilnya itu asyik bercanda sembari menikmati makanan bersama di atas meja. Sementara si cucu hanya diam sembari menatap aneh kakeknya itu.

Hari-hari berlalu. Keadaan semakin tak membaik. Suami dan istrinya pun semakin tak taat kepada lelaki tua itu.

Beberapa bulan kemudian si kakek pun meninggal. Suami dan istri itu kemudian hendak memberikan barang-barang/pakaian milik si kakek kepada para fuqara dan sebagian dibakar/dibuang. Namun keduanya kaget ketika si kecil mengambil piring kayu kakeknya dan tidak mau membuangnya.

“Apa kamu mau benda itu? Untuk apa?.” Tanya ayahnya.

Si kecil -cucu kakek- itu menjawab:
“Aku ingin menjaga dan menyimpan piring kayu ini. Kelak aku ingin memberikan makan ayah dan ibu dengan piring kayu tersebut saat kalian berdua sudah tua, sebagaimana kakek diberi makan.”

Catatan penerjemah:
Sejatinya sikap anda kepada orang tua -di hadapan anak anda- bisa menjadi nutrisi atau bahkan sampah bagi jiwa anak yang tersuplai melalui matanya.

Dan kelak kita akan melihat apakah nutrisi itu yang akan berbuah manis atau kah bau busuk tumpukan sampah-sampah itu. Rabbanaa, ampunilah dosa kami kepada orang tua kami.

Diterjemahkan oleh Yani Fachriansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *