MENGAKU MEMBELA NABI TAPI NYINYIRIN YANG MENYERU ITTIBA’ SUNNAH NABI

Diposting pada

Memang benar kata orang Arab (الجنون فنون / Gila itu beraneka ragam/berseni-seni). Ini contohnya: Sang ‘oknum’ berkoar-koar mengaku membela Nabi akan tetapi nyinyiri seruan Ittiba’ Sunnah Nabi dalam menghadapi orang-orang kafir yang menghina Nabi.

Sang ‘oknum’ mengatakan: “Di saat kehormatan nabi dilecehkan dan dihinakan secara terang-terangan, lalu ada yang berkata: ” cara membela nabi yang tepat adalah dg Berittiba’ kepada sunnahnya”.. ucapan seperti ini seakan² kita disuruh untuk diam dan bertindak apa²…Loh kok bisa??? Iya, Karena berittiba’ kepada nabi itu sudah kewajiban, tanpa ada penghinaan kepada nabi pun kita wajib ‘ain berpegang dan Berittiba’ dg nabi”.

Aneh bin Nyeleneh. Virus/setan apakah yang telah merasukinya?! Kejahilan level berapakah yang sudah menjangkiti akalnya?! Apakah dia jahil terhadap sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم

“Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian dan tidak akan Allah cabut hingga kalian kembali kepada agama kalian”. (HSR. Abu Daud)

Umat Islam tidak akan jaya dan menang atas musuh-musuhnya hingga kembali kepada agama mereka yaitu agama Islam. Imam Al Barbahari rahimahullahu di awal kitab Syarhu Sunnah mengatakan: “Ketahuilah bahwa Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam”.

Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata setelah menceritakan kemenangan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu atas musuh-musuh Islam: “Hasil berpegang teguh dengan Sunnah adalah kemenangan melawan musuh dan keteguhan di atas Islam”. [1]

Adapun ucapan sang ‘oknum’ “ucapan seperti ini seakan² kita disuruh untuk diam dan bertindak apa²….”.

Maka itu hanyalah kegagalan fahamnya sendiri dan memang sang ‘oknum’ sudah terbiasa dengan hal ini. Dan ini mirip dengan ucapan orang-orang Harakah ataupun Khawarij: “Masak kita hanya diam saja tidak bergerak (untuk demo atau jihad)?!”

Tapi tidak aneh juga, jangankan ucapan orang lain, dia juga gagal paham tentang ucapannya sendiri (seperti dalam bantahan-bantahan kita sebelumnya). Semoga Allah memberikan keselamatan dan ‘afiyah kepada kita semua.

Yang lebih parah lagi, dia menyuruh orang lain merujuk kepada para ulama, tapi dia sendiri melangkahi para ulama alias Nglama’. Sudah membuat statement ngawur sana sini tanpa merujuk kepada para ulama (lihat bantahannya pada kajian kita di FB tanggal 27 Oktober 2020), kemudian baru ngomong seperti diatas dan itupun masih dia langgar sendiri. Coba anda bandingkan antara celotehan sang ‘oknum’ diatas yang nyinyiri seruan untuk Ittiba’ sunnah dengan fatwa para ulama berikut ini:

  • Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullahu ditanya: “Fadhilata Asy Syaikh kami ingin tahu apa kiat-kiat dan langkah-langkah kongkrit untuk membela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Beliau menjawab: “Pertama kali dengan Ittiba’ (Sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendahulukan ucapan beliau diatas ucapan semua orang…” [2]

  • Markaz Al-Albani menyatakan: “Sesungguhnya kewajiban atas umat Islam sekarang ini sangatlah besar. Maka harus kita menampakkan kecintaan kita yang jujur kepada Nabi dengan membela kehormatannya, menolong sunnahnya, berpegang teguh dengan Sunnah serta menyeru kepada Sunnah”.

Sungguh beda jauh, antara fatwa ulama dengan syubhat ‘oknum’ nglama’ ini.

[1] Sittu Ad-Durar Min Ushul Ahli Al-Atsar hal. 93
[2] Lihat Makalah “Innaa Kafainaaka Al-Mustahziin’ https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/1960

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *